Senin, September 20, 2021
BerandaAkhlak & TasawufPengertian Ilmu, Fiqih dan Keutamaannya

Pengertian Ilmu, Fiqih dan Keutamaannya

Pasal 1: Pengertian Ilmu, Fiqih dan Keutamaannya

A. Kewajiban Belajar

Rasulullah bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

“Menuntut ilmu hukumnya fardhu bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan.”2

Ketahuilah, bahwa tidak diharuskan bagi setiap muslim menuntut segala ilmu, tetapi yang diharuskan adalah menuntut Ilmu Hal, sebagaimana dinyatakan “Ilmu paling utama adalah Ilmu Hal, dan perbuatan paling utama adalah memelihara al-Hal.” 3

Orang muslim wajib mempelajari ilmu yang diperlukan menghadapi tugas/kondisi dirinya, apapun wujud tugas/kondisi itu.

Karena dia wajib menjalankan sholat, maka wajib baginya memiliki ilmu yang berkaitan dengan sholat, secukupnya guna menunaikan kewajiban tersebut.

Wajib pula mempelajari ilmu-ilmu lain yang menjadi sarana (wasilah) dalam menunaikan kewajibannya, karena adanya sarana pada perbuatan fardhu itu maka fardhu pula hukumnya, dan sarana pada perbuatan wajib maka wajib juga hukumnya.4

Sama halnya dalam hal puasa, dan juga zakat jika dia memiliki harta, bahkan juga haji jika telah diwajibkan atasnya.

Demikian pula ilmu perdagangan, jika dia seorang pedagang.

Dikemukakan permohonan kepada Muhammad bin Hasan rah.a5 “Mungkinkah engkau mengarang kitab tentang zuhud?”. Beliau menjawab, “Saya telah menyusun kitab tentang jual beli.” Artinya seorang Zahid (orang yang berbuat zuhud) ialah mereka yang menghindari syubhat dan makruh dalam aktifitas dagangnya.

Demikian pula dalam seluruh aktifitas muamalat dari berbagai jenis pekerjaan.

Setiap orang yang berkecimpung dalam berbagai aktifitas tersebut diatas adalah wajib mempelajari ilmunya, agar terhindar dari hal yang haram.

Demikian juga wajib mempelajari ilmu tingkah polah (dinamika) hati, semisal tawakkal, inabah, khosyyah, dan ridho6, karena semua itu tetap aktual pada setiap kondisi.

B. Kemuliaan Ilmu

Tentang kemuliaan ilmu itu tiada seorangpun meragukannya, karena ilmu itu khusus dimiliki manusia.

Sedang semua perkara selain ilmu dapat dimiliki oleh manusia juga binatang, semisal keberanian, kenekatan, kekuatan, murah hati, belas kasih, dan sebagainya selain ilmu.7

Dengan ilmu, Allah Ta’ala memperlihatkan keunggulan nabi Adam a.s, atas para malaikat dan memerintahkan mereka agar bersujud kepada beliau.8

Sesungguhnya mulianya ilmu itu karena kedudukannya menjadi wasilah (sarana) terhadap kebaikan dan taqwa, suatu hal yang membuat manusia berhak memperoleh kemuliaan disisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَ dan kebahagiaan abadi, sebagaimana kata syair gubahan Syaikh Muhammad bin Hasan bin Abdullah berikut:

“Belajarlah, karena ilmu akan menghiasi ahlinya. Dia keunggulan, dia juga pertanda semua pujian. Carilah ilmu, agar setiap hari dapat tambahan. Dan berenanglah, ke tengah samudera pengetahuan. Belajarlah fiqh, dialah panglima unggulan. Menuju kebaikan dan taqwa, dan dialah adilnya adil. Dia ilmu penunjuk ke jalan hidayah. Dia benteng penyelamat dari segala bencana. Seorang Faqih yang wara’. Sungguh lebih berat setan menggodanya dibanding Abid seribu.”9

C. Belajar Ilmu Akhlak

Demikian pula (wajib mempelajari ilmu) dalam bidang akhlak, semacam sifat dermawan, kikir, penakut, nekad, sombong, rendah diri, menjaga diri, berlebih-lebihan, terlalu irit, dan sebagainya.

Karena sifat sombong, kikir, penakut, maupun berlebihan itu haram hukumnya, dan tidak mungkin menghindari semua itu kecuali dengan mengetahui ilmunya dan ilmu antisipasinya, maka wajib bagi setiap orang untuk mempelajarinya.

Bahwa Imam Sayid Yang Mulia Ustadz Nashiruddin Abul Qasim10 telah mengarang Kitab Akhlak – alangkah bagusnya kitab ini – dan karenanya wajib bagi setiap muslim untuk menjaga akhlak diatas.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments