Minggu, Agustus 1, 2021
BerandaAqidah IslamSemoga Allah Mencurahkan Rahmat dan Salam pada Para Rosul

Semoga Allah Mencurahkan Rahmat dan Salam pada Para Rosul

Nazhom Keduapuluh: Semoga Allah Mencurahkan Rahmat dan Salam pada para Rosul

عَلَـيْهِمُ الصَّـلاَةُ وَالسَّـلاَمُ * وَآلِـهِمْ مـَا دَامَـتِ اْلأَيـَّـامُ

[20] Semoga Allah mencurahkan rahmat dan salam pada para rasul, * dan keluarga mereka selama waktu dan masa masih ada dan tetap berlangsung.

a. I’rob Nazhom

Isim dhomir yang ada pada lafadz عليهم dan وآلهم kembali pada para rasul.

Perkataan Syaikh Ahmad Marzuki ﻣﺎ داﻣﺖ الأيام mengandung ﻣﺎ dzorfiah masdariah dan دام adalah fi’il taam yang berarti tetap atau masih ada. Lafadz الأيام adalah bentuk jamak dari mufrod يوم. Tetapi yang dimaksud الأيام disini adalah berarti waktu atau masa, baik siang atau malam.

Arti bait di atas adalah “Saya meminta dari-Mu, Ya Allah, agar Engkau selalu merahmati mereka dengan rahmat yang disertai dengan pengagungan, dan agar Engkau melindungi mereka dan memberikan penghormatan untuk mereka dengan sebenarnya-benarnya penghormatan selama waktu dan masa masih ada dan tetap.

Arti bait ini adalah redaksi yang shohih yang berasal dari Syaikh Ahmad Marzuki. Adapun bait yang ditemukan dalam redaksi lain adalah ﻣﺎ داﻣﺖ اﻷوﻗﺎت والأيام dengan menyebutkan lafadz اﻷوﻗﺎت dan membuang lafadz وآلهم. Adapun redaksi lain itu maka ia diubah oleh para editor.

Perkataan Syaikh Ahmad Marzuki وآلهم adalah diathofkan pada isim dhomir pada lafadz عليهم. Pengathofan tersebut adalah tanpa menyebutkan kembali huruf jer. Pengathofan semacam ini diperbolehkan menurut Syaikh Ibnu Malik yang sependapat dengan Syaikh Yunus, Syaikh Akhfasy, para ulama Kuffah, dan Syaikh Abu Khiyaan. Adapun pendapat yang menurut ulama jumhur Basrah adalah tidak diperbolehkan mengathofkan lafadz pada isim dhomir yang kemasukan huruf jer kecuali harus dengan menyebutkan kembali amil jer, baik berupa huruf atau isim.

Contoh:

ﻓﻘﺎل ﳍﺎ وﻟﻸرض وﻋﻠﻴﻬﺎ وﻋﻠﻰ اﻟﻔﻠﻚ ﻗﺎﻟﻮا ﻧﻌﺒﺪ إﳍﻚ وإﻟﻪ آﺑﺎﺋﻚ

Syaikh Ibnu Malik berkata dalam kita Khulashoh, “Kembali menyebutkan amil jer ketika diathofkan pada dhomir jer adalah hal yang wajib. Sedangkan menurutku tidaklah wajib karena telah ada bukti yang shohih dalam kalam nazhom dan kalam natsar.

Termasuk bukti dari kalam nazhom adalah nazhom syair:

ﻓﺎذﻫﺐ ﻓﻤﺎ ﺑﻚ واﻷﻳﺎم ﻣﻦ ﻋﺠﺐ

Termasuk bukti dari kalam natsar adalah perkataan Ibnu Abbas dan Hasan:

ﺗﺴﺎءﻟﻮن ﺑﻪ واﻷرﺣﺎِم

b. Penyesuaian Doa

[MASALAH] Ismail al-Hamidi berkata, “Apabila ditanya, ‘Rahmat untuk Rasulullah adalah khusus dan sudah ada. Jadi orang yang memintakan rahmat yang ditujukan kepada beliau berarti memintakan sesuatu yang sudah ada.’

Maka jawabannya, ‘Sesungguhnya tujuan kita memintakan rahmat kepada beliau adalah memintakan rahmat yang belum ada karena tidak ada waktu yang terlewati kecuali di waktu tersebut terdapat rahmat yang belum ada bagi beliau. Dengan demikian rahmat yang kami minta agar dicurahkan kepadanya akan membuatnya terus naik dan naik dalam kesempurnaan sampai tidak terbatas.’

Menurut pendapat yang shohih, Rasulullah dapat menerima manfaat rahmat yang kita mintakan untuknya, tetapi orang yang bersholawat hendaknya tidak berniat memberikan manfaat rahmat kepadanya tetapi hendaklah berniat tawassul (menjadikan Rasulullah sebagai perantara) kepada Allah agar apa yang diinginkan oleh orang yang bersholawat dapat terpenuhi.

Tidak diperbolehkan mendoakan para nabi dengan doa yang tidak ada dalil tentang cara berdoanya, seperti doa rahimahullah. Akan tetapi yang pantas dan lebih patut bagi para nabi adalah mendoakan mereka dengan doa sholawat dan salam. Bagi para sahabat, tabi’in, para wali, dan para syeh adalah mendoakan mereka dengan doa radhiyallahu ‘anhu. Sedangkan bagi orang selain mereka adalah mendoakannya bisa dilakukan dengan bentuk doa apapun.”

Sumber: Syaikh Nawawi al-Bantani. Nuruzh Zholam Syarah Aqidatul Awam. Terjemahan Muhammad Ihsan bin Nuruddin Zuhri. 2017.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments