Senin, September 20, 2021
BerandaIlmu HadisBaik dan Halal adalah Syarat Diterimanya Doa

Baik dan Halal adalah Syarat Diterimanya Doa

Siapa pun tidak akan selamat di sisi Allah, kecuali orang-orang beriman dan berperilaku baik. Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat.” (QS. an-Nahl: 32)

Malaikat mendatangi mereka seraya berkata, “Kesejahteraan (semoga dilimpahkan) atas kalian. Kalian adalah orang baik maka masuklah ke dalam surga dan kekallah (di dalamnya).” (QS. az-Zumar: 73)

Ketika menjelaskan makna umum dari sabda Rasulullah, “Dan Dia tidak menerima, kecuali yang baik.” Ibnu Rajab al-Hambali berkata, “Hati, lisan, dan jasad semua orang beriman itu baik disebabkan keimanan yang menancap dalam hati, zikir yang senantiasa menghiasi lisannya, dan amal saleh yang dilakukan, dan inilah buah dari keimanan.”

  1. Agar Amal Menjadi Baik dan Diterima

Salah satu hal terpenting yang menyebabkan amal perbuatan seorang mukmin menjadi baik dan diterima adalah makanan yang baik dan halal. Hadis ini menjadi dalil bahwa amal perbuatan tidak bisa diterima, kecuali dengan makan makanan yang halal karena makanan haram bisa merusak amal perbuatan tersebut, bahkan menjadikannya tidak diterima.

Oleh karena itu, setelah mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima, kecuali yang baik, Rasulullah bersabda, “Seusngguhnya, Allah menyuruh kaum Mukminin dengan perintah yang sama dengan yang diperintahkan kepada para rasul.” (QS. al-Mu’minun: 51) Dan Allah juga berfirman, “Wahai orang-orang beriman, makanlah makanan yang baik yang telah Kami anugerahkan untuk kalian.” (QS. al-Baqarah: 172) Artinya, bahwa para Rasul dan umatnya diperintahkan untuk memakan makanan yang baik lagi halal dan melakukan amal saleh. Hal itu karena makanan yang halal akan menghasilkan amal saleh, sedangkan makanan haram akan menyebabkan amal tidak bisa diterima.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas R.A., ia berkata, “Aku membaca ayat di hadapan Rasulullah, “Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. al-Baqarah: 168) Lalu Saad Ibnu Abi Waqash R.A. berdiri seraya mengatakan, “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku orang yang selalu dikabulkan doanya.” Lalu Rasulullah menjawab, “Wahai Saad, baikkan makananmu, pasti doamu dikabulkan Allah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sungguh seorang hamba yang makan sesuap makanan haram, Allah tidak akan menerima amalnya selama empat puluh hari. Dan orang yang dagingnya tumbuh dari makanan haram maka neraka lebih utama baginya.”

Abu Yahya al-Qatat meriwayatkan dari Mujahid dari Ibnu Abbas R.A., yang berkata “Allah tidak menerima shalat seorang yang di dalam perutnya terdapat makanan haram.”

  1. Tidak Diterimanya Suatu Amal

Tidak diterimanya amal dalam beberapa hadis Nabi  bisa diartikan bahwa amal tersebut tidak sah, seperti dalam hadis, “Allah tidak menerima shalat seseorang di antara kalian yang berhadas sampai ia berwudhu.” Pada sebagian hadis, berarti tidak sempurna dan tidak mendapat pahala.

Bisa juga tidak diterimanya amal berarti tidak adanya pahala yang didapatkan. Seperti dalam hadis, “Seorang wanita nusyuz, orang yang mendatangi dukun, dan peminum khamr, shalat mereka tidak diterima selama empat puluh hari.”

Juga dalam hadis, “Dan Dia tidak menerima, kecuali yang baik” dan hadis, “Siapa yang shalat dengan menggunakan pakaian yang harganya sepuluh dirham dan yang berasal dari harta haram maka shalatnya tidak akan diterima.”

Maksudnya, kewajiban telah dilakukan, tetapi tidak mendapat pahala. Namun, untuk membedakan antara dua maksud di atas dibutuhkan dalil-dalil penunjang.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments