Senin, September 20, 2021
BerandaFiqih SyariatBersuci, Macam-Macam Air dan Pembagiannya

Bersuci, Macam-Macam Air dan Pembagiannya

Bersuci, Macam-macam Air dan Pembagiannya

Bersuci

Dalam hukum Islam, soal bersuci dan segala seluk beluknya termasuk bagian ilmu dan amalan yang penting, terutama karena diantara syarat-syarat sholat telah ditetapkan bahwa seseorang yang akan mengerjakan sholat, wajib suci dari hadats dan suci pula badan, pakaian, dan tempatnya dari najis.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ – البقرة ٢٢٢

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. al-Baqarah: 222)

Perihal bersuci meliputi beberapa perkara berikut:

  1. Alat bersuci, seperti air, tanah, dan sebagainya.
  2. Kaifiat (cara) bersuci.
  3. Macam dan jenis-jenis najis yang perlu disucikan.
  4. Benda yang wajib disucikan.
  5. Sebab-sebab atau keadaan yang menyebabkan wajib bersuci.

Bersuci ada dua bagian:

  1. Bersuci dari hadats. Bagian ini khusus untuk badan, seperti mandi, berwudhu’, dan tayamum.
  2. Bersuci dari najis. Bagian ini berlaku pada badan, pakaian, dan tempat.

Macam-macam Air dan Pembagiannya

1. Air yang suci dan menyucikan

Air yang demikian boleh diminum dan sah dipakai untuk menyucikan (membersihkan) benda yang lain. Yaitu air yang jatuh dari langit atau terbit dari bumi dan masih tetap (belum berubah) keadaannya, seperti air hujan, air laut, air sumur, air es yang sudah hancur kembali, air embun, dan air yang keluar dari mata air.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهِ – الانفال ١١

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu.” (al-Anfal: 11)

Sabda Rosulullah  :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيْلُ مِنَ الْمَاءِ. فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَـتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ  رَسُوْلُ الله: هُوَ الطُّهُوْرُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ – رواه الخمسةوقال الترمذى هذاحديث صحيح

Dari Abu Hurairoh r.a. Telah bertanya seorang laki-laki kepada Rosulullah ﷺ. Kata laki-laki itu: “Ya Rosulullah, kami berlayar di laut dan kami hanya membawa air sedikit, jika kami pakai air itu untuk berwudhu, maka kami akan kehausan, bolehkah kami berwudhu dengan air laut?” Jawab Rosulullah ﷺ, “Air laut itu suci lagi menyucikan, bangkainya halal dimakan.” (Riwayat lima ahli hadis, menurut keterangan Tirmidzi, hadis ini sohih).

لَمَّاسُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنْ بِئْرِبُضَاعَةٍ,قَالَ: الْمَاءُ لاَيُنَجِّسُهُ شَيْءٌ – رواه الترمذى وقال حسن

Tatkala nabi ditanya bagaimana hukumnya sumur budha’ah, beliau berkata: “Airnya tidak dinajisi suatu apa pun.” (Riwayat Tirmidzi dan berkata hadis hasan).

Perubahan air yang tidak menghilangkan keadaannya atau sifat “suci-menyucikan”, baik perubahan itu pada salah satu dari semua sifatnya yang tiga (warna, rasa, dan baunya), adalah sebagai berikut:

  1. Berubah karena tempatnya, seperti air yang tergenang atau mengalir di batu belerang.
  2. Berubah karena lama tersimpan, seperti air kolam.
  3. Berubah karena sesuatu yang terjadi padanya, seperti berubah disebabkan ikan atau kiambang.
  4. Berubah dengan sebab tanah yang suci, begitu juga segala perubahan yang sukar memeliharanya, seperti berubah oleh sebab dedaunan yang jatuh dari pepohonan yang berdekatan dengan sumur atau tempat-tempat air itu.

2. Air suci, tetapi tidak menyucikan

Zatnya suci, tetapi tidak sah dipakai untuk menyucikan sesuatu. Termasuk dalam bagian ini ada tiga macam air, yaitu:

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments