Minggu, September 19, 2021
BerandaIlmu HadisMemilih yang Diyakini dan Meninggalkan Keraguan

Memilih yang Diyakini dan Meninggalkan Keraguan

Adapun sikap dan perbuatan mereka terkait perkara syubhat adalah sebagai berikut:

  • Yazid ibn Zurai’ tidak mengambil warisan dari ayahnya karena ayahnya bekerja sebagai pegawai kerajaan. Ia khawatir warisannya tidak halal. Sementara itu, yazid sendiri bekerja dan mencari makan dari sulaman daun kurma hingga wafat. Semoga Allah merahmatinya.
  • Miswar ibn Makhramah telah membeli banyak makanan hingga ketika melihat awan pada musim gugur, ia pun berkata, “Aku tidak suka menggunakan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi kaum Muslimin.” Lalu ia pun bersumpah untuk tidak mengambil untung sedikit pun. Ketika hal itu dilaporkan kepada Umar ibn Khaththab, Umar pun kagum dan mendoakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”
  • Ibrahim ibn Adam pernah ditanya oleh seseorang, “Mengapa kamu tidak mau minum air zamzam?” Ibrahim pun menjawab, “Jika aku punya ember, pasti aku akan meminum air zamzam tersebut.” Ini menunjukkan bahwa ember tersebut berasal dari harta penguasa yang menurutnya meragukan (syubhat).
  1. Kontradiksi antara Keraguan dan Keyakinan

Apabila ada kontradiksi yang meragukan dan meyakinkan, kita harus memilih dan mendahulukan yang meyakinkan dan meninggalkan yang meragukan. Makna ini terdapat dalam kaidah fikih yang berbunyi,

الْيَقِيْنُ لَايُزَالُ بِالشَّكَّ

“Yang meyakinkan tidak bisa dihilangkan oleh yang meragukan.”

Sebagai contoh, seseorang merasa yakin sudah berwudhu lalu ia ragu apakah wudhunya batal atau belum? Maka ia dianggap masih berwudhu (belum batal wudhunya). Adapun dalil dari kaidah ini adalah hadis riwayat Muslim bahwa Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang dari kalian merasakan sesuatu dalam perutnya lalu ragu apakah keluar angin atau tidak, hendaklah jangan keluar dari mesjid hingga mendengar bunyi atau mencium bau.” (HR. Muslim)

  1. Istiqomah adalah Pondasi Meninggalkan Syubhat

Hanya orang istiqomah dalam takwa yang mampu meninggalkan syubhat. Sebaliknya orang yang belum mampu istiqomah maka ia akan merasa berat.

Oleh karena itu, Ibnu Umar merasa heran pada penduduk Irak yang bertanya tentang darah nyamuk. Beliau berkata, “Mereka bertanya tentang darah nyamuk padahal telah membunuh Husain? Sedangkan aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Mereka berdua (Hasan dan Husain) adalah kesayanganku di dunia.”

  1. Kejujuran Melahirkan Ketenangan sedang Kebohongan Menimbulkan Kegelisahan

Diriwayatkan Tirmidzi, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, kejujuran itu melahirkan ketenangan, sedangkan kebohongan menimbulkan kegelisahan.” Hadis ini menunjukkan perintah untuk selalu berkata jujur ketika menjawab pertanyaan atau menyampaikan fatwa. Tanda kejujuran adalah tenangnya hati, sedangkan tanda kebohongan adalah adanya keraguan dan kegelisahan dalam hati.

  • Intisari Hadis
  1. Hadis ini menganjurkan untuk menerapkan berbagai hukum dan menyelesaikan permasalahan hidup atas dasar keyakinan, bukan keraguan.
  2. Perkara yang halal, benar, dan jujur akan melahirkan ketenangan dan keridhaan. Adapun perkara yang haram, batil, dan dusta menimbulkan keraguan, kegundahan, dan kebencian.

Sumber: Dr. Musthafa Dieb al-Bugho & Dr. Muhyiddin Mistu. al-Wafi: Syarah Hadis Arbai’n Imam An-Nawawi. Terjemahan Rohidin Wahid. 2018. Jakarta: Qisthi Press.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments