Minggu, September 19, 2021
BerandaKhutbah & PidatoContoh Pidato Sambutan pada Acara Maulid Nabi ﷺ

Contoh Pidato Sambutan pada Acara Maulid Nabi ﷺ

Jadi sekali lagi di dalam kita memperingati maulid Nabi itu hendaknya kita mengambil intisari kehidupan yang pernah dialami oleh Rasulullah yang kemudian kita praktekkan (wujudkan) dengan perbuatan sehari-hari. Intisari kehidupan Nabi yang dimaksud adalah akhlak atau perilaku Rasulullah , dan itu adalah rujukan dan acuan kita sebagai umatnya yang mendambakan kebahagian hidup di dunia dan kehidupan di akhirat.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَ sendiri telah menyatakan bahwa pada diri Rasulullah  terdapat akhlak yang mulia sekaligus menjadi panutan bagi orang-orang yang menginginkan bertemu dengan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَ.

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Marilah dalam kesempatan ini kita mengupas sedikit tentang kepribadian Rasulullah ﷺ yang merupakan panutan dan suri tauladan kita, sebagaimana yang telah dinyatakan sendiri oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Dan kemudian kita buktikan (kita praktekkan) dalam bentuk lahiriyah (amal perbuatan) dalam kehidupan sehari-hari kita. Diantaranya akhlak beliau yang harus kita contoh adalah:

Pertama: Kesabaran Rasulullah .

Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ pergi ke Thoif dengan harapan seruan dakwahnya mendapat peluang dan sambutan yang dari penduduk Thoif, sebab disana berkumpullah keluarga terdekat. Pada mulanya kedatangan beliau itu disambut dengan penuh mesra, tetapi setelah Rasulullah ﷺ berdakwah dengan lemah lembut, mereka malah menolak engan cara yang amat kasar, bahkan mereka mengejek, menghina, menyakiti beliau dengan melemparinya batu, sampai bercucuranlah darah dari tubuhnya yang mulia, hingga membuat beliau tidak sadarkan diri.

Pada saat yang demikian itu malaikat Jibril datang dan menawarkan kepada Nabi Muhammad agar beliau berdoa kepada Allah untuk menumpas kaum Thoif. Jibril juga menawarkan diri untuk mengangkat gunung Uhud untuk ditimpakan kepada kepada kaum Thoif. Apa yang dilakukan oleh Nabi ketika ditawari oleh malaikat Jibril? Beliau malah mengangkat kedua tangannya seraya berdoa kehadirat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: “Ya Allah, tunjukilah kaumku, karena mereka itu tidak mengetahui, maka selamatkanlah kaum Thoif dari siksaMu”

Alangka besar jiwanya Nabi Muhammad, alangkah luhur dan baik budi pekertinya, alangkah sabarnya Nabi Muhammad. Rasanya tidak ada manusia di alam ini yang dapat menahan diri dan memiliki kesabaran seperti yang dimiliki oleh Rasulullah ﷺ.

Kedua: Keikhlasan hati Rasulullah ﷺ. 

Suatu ketika Rasulullah  tertidur di bawah pohon kurma terpisah dari pasukan umat Islam yang lain. Tiba-tiba datanglah seorang musuh seraya menghunuskan pedang diatas leher Nabi dan membangunkannya lalu berkata: “Hai Muhammad siapakah sekarang yang dapat menolongmu dari bahaya maut ini?”. Dengan suara lantang Rasulullah menjawab “Allah yang akan menolongku”. Seketika itu juga pedang yang ada di tangannya terjatuh. Kemudian Nabi mengambil pedang tersebut dan kini giliran Nabi Muhammad yang menghunus pedang tersebut dan berkata kepada orang itu. “Sekarang siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bahaya maut ini?”. “Hanya engkaulah Ya Rasulullah yang dapat menyelamatkan jiwaku”, jawab orang itu. Maka dikembalikanlah pedangnya oleh Nabi kemudian orang tersebut menyatakan masuk Islam, karena kagum atas ketulusan, kesabaran, kelapangan hati yang dimiliki oleh Rasulullah. Ia belum pernah melihat sesosok orang yang sifatnya dan perilakunya seperti Nabi Muhammad ﷺ.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments