Senin, September 20, 2021
BerandaAkhlak & TasawufSikap Waro' Seorang Penuntut Ilmu Agama

Sikap Waro’ Seorang Penuntut Ilmu Agama

Dianjurkan lagi agar banyak-banyak mengerjakan sholat sunah dan melaksanakan sholat dengan khusyuk, karena hal demikian dapat mendorong kesuksesan dan memudahkan belajar.

Syair gubahan Syaikh Imam yang mulai az-Zahid al-Hajjaj Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi175, dibawakan untukku: “Amalkan perintah jauhi larangan terus menerus. Peliharalah sholat terus menerus. Pelajarilah ilmu syari’at sepenuh hati. Mohonlah pertolongan dengan amal yang suci. Engkau akan menjadi faqih yang mengayomi. Mohonlah agar kuat hafalanmu kepada Ilahi. Demi kecintaanmu fi fadhlihi. Dialah Allah, sebagus-bagus yang melindungi176

Imam Nasafi rah.a bersyair lagi: “Taatlah, seriuslah, jangan bermalasan. Kalian pasti kembali menghadap Tuhan. Jangan tidur melulu. Orang yang terpuji yaitu
yang sedikit tidurnya di malam berlalu177

Dianjurkan kepada pelajar agar senantiasa membawa buku untuk dipelajari. Diucapkan kata mutiara, “Siapa tidak ada buku di sakunya, maka tidak ada hikmah di hatinya.”

Dianjurkan buku itu putih bersih dan juga membawa pena, guna mencatat apapun yang didengar dari para orang alim. Di atas telah kami sebutkan hadis riwayat Hilal bin Yasar yang menjelaskan hal tersebut.


Footnote:

170 Waro’ adalah menjaga diri (self protection) dari hal yang haram, baik perbuatan, ucapan, sandang, pangan, dan papan. Sedang waro’ kamil (waro’ yang sempurna) adalah menjaga diri dari segala sesuatu yang tidak berguna menurut agama, baik sesuatu itu mubah, makruh apalagi haram.

171 Banyak hadis-hadis Nabi yang berisi warning tentang sikap spiritual dan proses belajar seperti ini. Hal demikian dipandang logis, karena paling tidak dengan sikap waro’ pelajar dapat lebih berkonsentrasi, belajarnya menjadi lancar dan mengarah, sehingga hasilnya juga maksimal. Imam Syafi’i pernah berkata:

طلبتم العلم لغير الله فأبى العلم ان يكون الاالله

“Kalian menuntut ilmu demi selain Allah, tetapi ilmu sendiri tidak mau kecuali demi Allah.”

172 Mungkin yang dimaksudkan di sini adalah Abu Bakar al-Fadhali alKumari, seorang ulama besar, syaikh yang berwibawa dan sangat konsisten terhadap periwayatan ilmu dan hadis. Wafat tahun 381H/991M (al-Fawaid al-Bahiyah, hal 184).

173 Maksudnya adalah jangan berbuat zalim pada orang lain, karena doa orang yang teraniaya itu mujarab, sebagaimana hadis sahih.

اتق دعوة المظلوم فانه ليس بينهما وبين الله حجابٌ

“Jagalah dirimu dari doanya orang yang teraniaya karena tiada lagi penghalang antara doa tersebut dengan Allah.”

174 Ada banyak hadis Nabi yang memuat larangan meremahkan fardhu sunah maupun adab syari’ah. Salah satunya diriwayatkan Imam Baihaqi dari Ibnul Mubarok sbb:

من تهاون بالأدب عوقب بحرمان السنن من تهاون بالسنن عوقب بحرمان الفرائض ومن تهاون بالفرئض عوقب بحرمان المعرفة

“Barangsiapa mengabaikan adab maka akan tertutup dari sunah, siapa mengabaikan sunah akan tertutup dari fardhu, dan siapa mengabaikan fardhu maka tertutup ma’rifat.” Lihat al-Baihaqi, Syu’abul Iman, VII/288.

175 Imam Nasafi adalah seorang ahli ahli fiqih, hadis, juga mufassir dan tidak sedikit kitab karangannya. An-Nasafi adalah salah satu gurunya Syaikh Ali bin Abu Bakar Shahibul Hidayah, berarti guru dari gurunya Syaikh az-Zanurji pengarang kitab ini. Imam Nasafi wafat di Samarkand tahun 537H/1140M.

176 Kalimat terakhir dari bait ketiga dalam rangakaian syair ini adalah iqtibas (petikan) dari ayat 63 Surat Yusuf.

177 Kalimat terakhir dari bait kedua dalam rangakain syair ini adalah iqtibas (petikan) dari ayat 17 surat Adz-Dzariayat.

Sumber: Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Ta’limul Muta’alim. Terjemahan Drs. H. Aliy As’ad, MM. Cetakan ke-27. 2007. Surabaya: Menara Kudus.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments