Minggu, Agustus 1, 2021
BerandaTarikh IslamAgama Yahudi dan Agama Kristen di Yaman Sebelum Islam

Agama Yahudi dan Agama Kristen di Yaman Sebelum Islam

Yahudi dan Kristen di Yaman

Sungguhpun begitu peradaban yang dihasilkan dari kesuburan negerinya serta penduduknya yang menetap menimbulkan gangguan juga dalam lingkungan jazirah itu. Raja-raja Yaman kadang dari keluarga Himyar yang sudah turun-temurun, kadang juga dari kalangan rakyat Himyar sampai pada waktu Dhu Nuwas al-Himyari berkuasa.

Dhu Nuwas sendiri condong sekali kepada agama Musa (Yudaisme), dan tidak menyukai penyembahan berhala yang telah menimpa bangsanya. Ia belajar agama ini dari orang-orang Yahudi yang pindah dan menetap di Yaman. Dhu Nuwas inilah yang disebut-disebut oleh ahli-ahli sejarah, yang termasuk dalam kisah “orang-orang yang membuat parit”, dan menyebabkan turunnya ayat:

“Binasalah orang-orang yang telah membuat parit. Api yang penuh bahan bakar. Ketika mereka duduk di tempat itu. Dan apa yang dilakukan orang-orang beriman itu mereka menyaksikan. Mereka menyiksa orang itu hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Mulia dan Terpuji.”1

Cerita ini ringkasnya ialah bahwa ada seorang pengikut Nabi Isa yang saleh bernama Phemion telah pindah dari kerajaan Romawi ke Najran. Karena orang ini baik sekali, penduduk kota itu banyak sekali yang mengikuti jejaknya, sehingga jumlah mereka makin lama makin bertambah juga.

Setelah berita itu sampai kepada Dhu Nuwas, ia pergi ke Najran dan dimintanya kepada penduduk supaya mereka masuk agama Yahudi, kalau tidak akan dibunuh. Karena mereka menolak, maka digalilah sebuah parit dan dipasang api di dalamnya. Mereka dimasukkan ke dalam parit itu dan yang tidak mati karena api, dibunuhnya kemudian dengan pedang atau dibikin cacat.

Menurut beberapa buku sejarah korban pembunuhan itu mencapai dua puluh ribu orang. Salah seorang diantaranya dapat lolos dari maut dan dari tangan Dhu Nuwas, ia lari ke Romawi dan meminta bantuan Kaisar Yustinianus atas perbuatan Dhu Nuwas itu.

Oleh karena letak kerajaan Romawi ini jauh dari Yaman, Kaisar itu menulis surat kepada Najasyi (Negus) supaya mengadakan pembalasan terhadap raja Yaman. Pada waktu itu (abad ke-6) Abisinia yang dipimpin oleh Najasyi sedang berada dalam puncak kemegahannya.

Perdagangan yang luas melalui laut diserta oleh armada yang kuat2 dapat menancapkan pengaruhnya sampai sejauh-jauhnya. Pada waktu itu ia menjadi sekutu Imperium Romawi Timur dan yang memegang panji Kristen di Laut Merah, sedang kerajaan Romawi Timur sendiri menguasainya di bagian Laut Tengah.

Setelah surat Kaisar sampai ke tangan Najasyi, ia mengirimkan bersama orang Yaman itu – yang membawa surat – sepasukan tentara di bawah pimpinan Aryat (Harith) dan Abraha al-Asyram salah seorang prajuritnya. Aryat menyerbu kerajaan Yaman atas nama penguasa Abisinia. Ia memerintah Yaman ini sampai ia dibunuh oleh Abraha yang kemudian menggantikan kedudukannya. Abraha inilah yang memimpin pasukan gajah, dan dia yang kemudian menyerbu Mekah guna menghancurkan Ka’bah tetapi gagal, seperti yang akan terlihat nanti dalam pasal berikut.

Anak-anak Abraha kemudian menguasai Yaman dengan tindakan sewenang-wenang. Melihat bencana yang begitu lama menimpa penduduk, Saif bin Dhi Yazan pergi hendak menemui Maharaja Romawi. Ia mengadukan hal itu kepadanya dan memintanya supaya mengirimkan penguasa lain dari Romawi ke Yaman. Tetapi karena adanya perjanjian persekutuan antara Kaisar Yustinianus dengan Najasyi tidak mungkin ia dapat memenuhi permintaan Saif bin Dhi Yazan itu.

Oleh karena itu Saif meninggalkan Kaisar dan pergi menemui Nu’man bin al-Mundhir selaku Gubernur yang diangkat oleh Kisra untuk daerah Hira dan sekitarnya di Irak. 3

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments