Senin, September 20, 2021
BerandaAqidah IslamApa yang Dimaksud dengan Sifat Jaiz Allah?

Apa yang Dimaksud dengan Sifat Jaiz Allah?

Nazhom Kesepuluh: Apa yang Dimaksud dengan Sifat Jaiz Allah

وَجَائِزٌ بِفَضْلِهِ وَعَدْلِهِ * تَرْكٌ لِكُلِّ مُمْكِنٍ كَفِعْلِهِ

[10] [Allah memiliki sifat jaiz, yaitu Dia] boleh [menciptakan] segala sesuatu yang mungkin dan [tidak menciptakannya] dengan anugerah-Nya dan keadilan-Nya.

a. Sifat Jaiz Allah

Maksudnya adalah bahwa wajib bagi setiap mukallaf meyakini bahwa Allah boleh saja menciptakan kebaikan dan keburukan, dan Dia boleh saja menciptakan keislaman pada diri Zaid dan kekufuran pada diri Umar, dan Dia boleh saja menciptakan berilmu pada diri salah satu dari Zaid dan Umar dan kebodohan pada salah satu yang lainnya dari mereka.

Pemberian pahala dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada hamba yang taat adalah bentuk anugerah dari-Nya dan pemberian siksa dari-Nya kepada hamba yang durhaka adalah bentuk keadilan dari-Nya karena Dia adalah Yang memberikan manfaat dan Yang memberikan bahaya.

Adapun ketaatan dan kemaksiatan-kemaksiatan hanya sebatas tanda bahwa Allah akan memberikan pahala dan siksaan bagi hamba yang bersifatan dengan mereka. Barang siapa yang Allah inginkan keberuntungannya maka Dia akan memberikan taufik kepadanya dengan ketaatan kepada-Nya. Dan barang siapa yang Dia inginkan celakanya maka Dia akan menciptakan kemaksiatan pada dirinya. Dengan demikian segala sesuatu yang berupa perbuatan-perbuatan baik dan buruk adalah atas dasar ciptaan Allah karena Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menciptakan hamba dan amal yang hamba lakukan.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, “Allah telah menciptakan kalian dan amal yang kalian lakukan.” (QS. as-Shooffaat: 96) Dengan demikian Allah adalah Dzat yang menjadi sumber bagi kemanfaatan dan keburukan. Oleh karena itu tidak ada kebaikan, keburukan, kemanfaatan, dan bahaya, kecuali dinisbatkan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Jadi, seorang hamba hendaknya hanya berpedoman kepada Allah saja dan tidak berharap dan tidak takut kepada selain-Nya.

b. Nabi Musa Menderita Sakit Gigi

Dikisahkan dari sayyidina Musa ُعَلَيْهِ السَّلَام bahwa ia mengeluhkan sakit gigi kepada Allah. Kemudian Allah berkata kepadanya, “Ambillah rumput jenis ini! Kemudian letakkan rumput itu di atas gigimu yang sakit!” Kemudian ia pun mengambil rumput itu dan meletakkannya di atas giginya yang sakit. Tiba-tiba rasa sakitnya hilang seketika.

Beberapa saat kemudian, rasa sakit itu kambuh lagi. Kemudian ia mengambil rumput itu lagi dan meletakkannya di atas giginya yang sakit tetapi rasa sakitnya malah bertambah. Kemudian ia meminta tolong kepada Allah, “Ya Allah! Ya Tuhanku! Bukankah Engkau telah memerintahkanku untuk meletakkan rumput ini di atas gigiku dan bukankah Engkau yang telah menunjukkanku untuk melakukan ini?” Allah menjawab, “Hai Musa! Aku adalah Dzat yang menyembuhkan. Aku adalah Dzat yang melindungi dari penyakit. Aku adalah Dzat yang memberi bahaya. Dan Aku adalah Dzat yang memberi manfaat. Mula-mula kamu menujuKu. Kemudian Aku menghilangkan rasa sakitmu. Tetapi kini kamu menuju rumput itu dan tidak menujuKu.”

Sumber: Syaikh Nawawi al-Bantani. Nuruzh Zholam Syarah Aqidatul Awam. Terjemahan Muhammad Ihsan bin Nuruddin Zuhri. 2017.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments