Senin, September 20, 2021
BerandaIlmu HadisMenyibukkan Diri dengan Sesuatu yang Bermanfaat

Menyibukkan Diri dengan Sesuatu yang Bermanfaat

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Rasulullah bersabda kepada Abu Dzar r.a., “Cukup seseorang dianggap jahat dan berdosa ketika ia tidak sadar dan terus melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat.”

  1. Meninggalkan Sesuatu yang Tidak Bermanfaat Merupakan Jalan Keselamatan

Ketika seorang muslim memahami kewajiban dan tanggung jawabnya, tentu ia akan sibuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk dunia maupun akhiratnya. Ia akan menghindari dan meninggalkan hal-hal yang sia-sia.

Ketika seseorang memahami bahwa hal tersebut manfaatnya lebih sedikit , ia akan menggunakan waktunya sebaik mungkin. Berusaha meninggalkan yang tidak bermanfaat. Sebaliknya, ia akan sibuk untuk urusan akhirat. Ini merupakan tanda sempurnanya keislaman seseorang, kokohnya iman, kebenaran takwanya, jauhnya dari hawa nafsu, dan selamat dan suksesnya di sisi Tuhannya Yang Maha Agung.

Rasulullah bersabda, “Jika keislaman di antara kalian sempurna, satu kebaikan yang dilakukannya akan ditulis sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Adapun setiap keburukan yang dilakukan, hanya ditulis satu keburukan semisalnya.” (HR. Bukhari)

Imam Malik ibn Anas menyebutkan bahwa Luqman pernah ditanya, “Apa yang menjadikan Anda mencapai derajat seperti ini?” Luqman menjawab, “Kejujuran, menepati janji, dan meninggalkan yang tidak bermanfaat.”

  1. Sibukkan Diri dengan Mengingat Allah agar Terhindar dari Segala yang Tidak Bermanfaat

Seorang muslim yang beribadah kepada Allah, seolah-olah melihat-Nya dan merasa kedekatan dengan-Nya hingga ia tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang sia-sia. Ini merupakan bukti bahwa ia benar-benar bersama Allah dan Allah pun bersamanya.

Adapun orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang sia-sia bertanda bahwa ia tidak bersama Allah dan Allah pun tidak dekat denganya, amalnya rusak, dan ia termasuk orang yang belum sempurna imannya.

Hasan al-Bashri berkata, “Salah satu tanda bahwa Allah berpaling dari seorang hamba adalah ia disibukkan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.”

  1. Perkara Bermanfaat dan yang Sia-Sia

Perkara yang bermanfaat adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan pokok hidup seperti makanan, minuman, pakaian, rumah, dan lain sebagainya. Juga segala sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan kelak di akhirat. Selain itu, adalah hal yang tidak bermanfaat.

Perkara yang sia-sia adalah hal-hal duniawi seperti menumpuk harta, berlebihan dalam makan dan minum, mencari jabatan dan kekuasan, cinta, pujian, dan sebagainya. Karenat itu, tanda lurusnya iman seseorang adalah tidak melakukan perbuatan itu karena menganggap hal tersebut tidak bermanfaat.

Perbuatan-perbuatan mubah yang tidak bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat, misalnya, seperti bermain-bermain, bergurau, dan perbuatan yang menurunkan wibawa. Hal itu sebaiknya ditinggalkan oleh seorang muslim karena itu hanya membuang waktu, padahal setiap perbuatan akan ada hisabnya kelak di akhirat.

Seorang yang terlalu banyak berbicara tentang sesuatu yang tidak bermanfaat, bisa jadi lama-kelamaan ia akan berbicara yang haram. Oleh karena itu, lazimnya akhlak seorang muslim adalah tidak banyak membicarakan sesuatu yang sia-sia, debat kusir, dan suka berkomentar yang tidak penting.

Tirmidzi meriwayatkan dari Muadz ibn Jabal r.a. ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum atas setiap kata yang terucap?” Rasul pun menjawab, “Tidak sedikit manusia yang tergelincir ke dalam neraka karena lisannya.”

Rasulullah bersabda, “Perkataan anak Adam akan menjadi dosa, dan tidak membuat pahala, kecuali amar ma’ruf, nahi mungkar, dan zikrullah.”

  • Intisari Hadis
  1. Sejatinya seorang muslim menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang bermanfaat, serta menjauhkan diri dari yang tidak bermanfaat.
  2. Sejatinya seorang muslim menyucikan jiwanya dengan menghindari perkara yang sia-sia.

Sumber: Dr. Musthafa Dieb al-Bugho & Dr. Muhyiddin Mistu. al-Wafi: Syarah Hadis Arbai’n Imam An-Nawawi. Terjemahan Rohidin Wahid. 2018. Jakarta: Qisthi Press.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments