Senin, September 20, 2021
BerandaAkhlak & TasawufMasa dan Waktu Terbaik Dalam Menuntut Ilmu

Masa dan Waktu Terbaik Dalam Menuntut Ilmu

Pasal 8: Masa dan Waktu Terbaik Dalam Menuntut Ilmu

Disebutkan kata mutiara, “Waktu belajar adalah semenjak buaian sampai masuk kuburan.”

Syaikh Hasan bin Ziyad147 mulai belajar fiqih pada umur 80 tahun, lalu tidak pernah tidur di ranjang selama 40 tahun, kemudian setelah itu menjadi mufti (berfatwa) selama 40 tahun.

Waktu yang paling cemerlang adalah permulaan masa remaja, waktu sahur dan waktu diantara Maghrib dan Isya.

Namun tetap dianjurkan memanfaatkan seluruh waktu yang ada, dan bila telah jenuh terhadap suatu ilmu maka beralihlah ke pelajaran yang lain.

Adalah Ibnu Abbas r.a, bilamana telah jenuh dengan ilmu kalam maka ia bilang “Ambilkanlah buku antologi para pujangga.”

Muhammad ibnul Hasan tidak pernah tidur semalaman untuk menyanding buku-bukunya, jika merasa jenuh terhadap satu buku maka berganti yang lain, ia juga menyanding air untuk membasmi tidurnya dan berkata, “Tidur itu bersumber dari panas, maka harus dilawan dengan air dingin.”


Footnote:

147 Berarti waktu beliau sekitar 160 tahun. al-Hasan bin Ziyad al-Lu’lu’i alKufi, adalah sahabat Abu Hanifah. Seorang ulama fiqih yang terkenal peka, kritis dan cerdas, pernah menjadi Qadhi di KUfah, wafat tahun 204H/819M. Tidak ditemukan tahun kelahirannya, sehingga tidak diketahui pajang usianya.

148 Ibnu Abbas adalah anak dari paman Rasulullah, berarti saudara sepupu beliau. Semenjak muda selalu bersama Rasul dan banyak sekali kontribusinya dalam penyiaran Islam dengan meriwayatkan hadits-hadits Nabi. Hari0harinya dipadati dengan belajar fiqih, ta’wil dan tafsir, banyak menggubah syair dan tidak ketinggalan turut dalam pasukan perang sabilillah. Ibnu Abbas dijuluki Turjumanul Qur’an (juru bicara al-Quran), wafat tahun 68H/687M. Perlu diketahui ada lima tokoh sahabat Nabi yang bernama Abdullah, yaitu Ibnu Mas’ud, Ibnu Zubair, Ibnu Umar, Ibnu Amr, dan Ibnu Abbas yang ini.

Sumber: Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Ta’limul Muta’alim. Terjemahan Drs. H. Aliy As’ad, MM. Cetakan ke-27. 2007. Surabaya: Menara Kudus.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments