Senin, September 20, 2021
BerandaIlmu HadisMencintai Sesama Muslim Seperti Mencintai Diri Sendiri

Mencintai Sesama Muslim Seperti Mencintai Diri Sendiri

b. Selalu mengingatkan saudara sesama muslim yang lalai dengan cara yang baik dan tidak menyinggung perasaan.

c. Berlaku adil dan bersegera memenuhi hak saudaranya sebagaimana ia pun ingin segera di penuhi haknya.
Muslim meriwayatkan dari Abdullah ibn Amr ibn al-Ash bahwa Rasulullah bersabda, “Siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka hendaknya ia mati dalam iman kepada Allah dan hari akhir, dan suka memberi sesuatu yang ia juga suka menerimanya.”

  1. Keistimewaan Seorang Muslim

Kesempurnaan iman seorang muslim teraplikasi dalam sifat istimewa, yaitu menginginkan kebaikan bagi sesama muslim maupun nonmuslim. Artinya, berharap semua manusia tak terkecuali nonmuslim dapat merasakan nikmatnya iman.

Rasulullah bersabda, “Cintailah suatu kebaikan untuk orang lain sebagaimana kamu mencintai suatu kebaikan bagi dirimu sendiri, niscaya kamu menjadi muslim yang baik.” (H.R. Tirmidzi).

  1. Berlomba-Lomba dalam Kebaikan

Berlomba-lomba dalam kebaikan merupakan kesempurnaan iman. Merupakan suatu kebaikan bila seseorang merasa iri terhadap kesalehan saudaranya. Bahkan itu menjadi indikator sempurnanya keimanan seseorang seperti dalam firman Allah : “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS.Al-Muthaffifin:26).

  1. Keimanan Menciptakan Masyarakat Bermartabat

Hadis ini memotivasi seseorang untuk mencintai kebaikan bagi orang lain yang merupakan bukti kebenaran iman dan kesempurnaan Islamnya. Dengan begitu akan terciptalah masyarakat yang bersih dan bermartabat. Setiap individu saling menjaga dirinya dalam kebaikan dan mengedepankan kebaikan untuk orang lain. Kebaikan yang melahirkan rasa ingin saling membahagiakan. Bahkan, menjadikan kebahagiaan orang lain sebagai kebahagiaan dirinya. Sebaliknya, kesedihan orang lain juga menjadi kesedihannya.

Rasulullah bersabda, “Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai dan menyayangi seperti satu jasad. Jika satu anggota badan sakit, anggota lainnya ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, Allah akan mewujudkan kemuliaan dan kejayaan umat Islam.

  1. Rapuhnya Keimanan akan Merasuk Tatanan Masyarakat

Saat keimanan rapuh dan hilang, maka rasa kasih sayang pun melayang. Jiwa tidak lagi mampu untuk merasakan kebaikan orang lain sebagai kebaikan diri sendiri. Begitu pun kebahagian orang lain bukanlah kebahagiaan diri maka yang muncul adalah egoisme, dengki, dan kezaliman. Tatanan masyarakat pun rusak perlahan, tetapi pasti. Kezaliman terjadi dimana-mana. Kegelisahan pun meraja disetiap jiwa. Orang zalim tidak lagi merasa berdosa. Lambat laun keburukan akan menjadi hal biasa. Masyarakat seperti ini telah dijelaskan dalam firman Allah : “(Berhala-berhala itu) adalah benda mati, tidak hidup. Dan berhala-berhala itu tidak mengetahui kapan para penyembahnya akan dibangkitkan.” (QS.An-Nahl:21).

  • Intisari Hadis
  1. Anjuran untuk bersatu dan saling menjaga kerukunan dalam masyarakat dengan saling menyayangi dan menghormati hingga tercipta kehidupan bermasyarakat yang damai.
  2. Membenci sifat dengki karena bertentangan dengan keimanan yang sempurna. Orang yang dengki tidak suka jika orang lain mendapat kenikmatan. Ia senang jika orang lain susah. Sebaliknya, ia gelisah jika melihat orang lain bahagia. Na’udzubillah.
  3. Iman itu naik turun. Naik dengan ketaatan dan turun dengan kemaksiatan.

Sumber: Dr. Musthafa Dieb al-Bugho & Dr. Muhyiddin Mistu. al-Wafi: Syarah Hadis Arbai’n Imam An-Nawawi. Terjemahan Rohidin Wahid. 2018. Jakarta: Qisthi Press.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments