Minggu, Agustus 1, 2021
BerandaAkhlak & TasawufBerkasih Sayang dan Menasehati Dalam Kebaikan

Berkasih Sayang dan Menasehati Dalam Kebaikan

Pasal 9: Berkasih Sayang dan Menasehati dalam Kebaikan

A. Kasih Sayang

Dianjurkan kepada orang alim hendaklah bersikap penyayang, suka menasehati dan tidak hasud/dengki, karena sifat dengki adalah berbahaya dan tidak bermanfaat.

Guru kami, Syaikhul Islam Burhanuddin rah.a, berkata. “Banyak orang berkomentar bahwa putera sang guru bisa menjadi alim karena kemauan keras sang guru untuk menjadikan para murid al-Qur’an menjadi alim, maka atas berkah keyakinan dan kasih sayangnya itulah putera beliau juga menjadi alim.”149

Abul Hasan150 berhikayat, bahwa Shadrul Ajal Burhanul Aimmah151 membagi waktu mengajar untuk kedua putra beliau yaitu Shadrus Syahid Hasamuddin152 dan Shadrus Sa’id Tajuddin, pada waktu agak siangan setelah murid-murid yang lain, komentar mereka berdua “Pada waktu agak siangan seperti ini, semangat kami telah menurun dan mulai jenuh”, dan jawab sang ayah “Orang-orang perantauan dan para putra pembesar pada berdatangan kemari dari berbagai penjuru, maka saya harus mendahulukan pelajaran mereka”. Maka atas berkah kasih sayang tersebut, dua putra guru itu menjadi ahli fiqih yang melebihi mayoritas fuqaha di muka bumi pada saat itu.

B. Menghadapi Kedengkian

Hendaklah orang alim tidak bertikai dan memusuhi orang lain, karena hal itu hanya akan menghabiskan waktu sia-sia.

Disebutkan kata mutiara, “Orang berbuat kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, dan orang berbuat kejelekan akan menanggung semua kejelekannya.”

Syaikhul Islam az-Zahid al-Arif Ruknuddin Muhammad bin Abu Bakar yang dikenal dengan gelar Imam Khowahir Zadeh153 al-Mufti, membawakan syair untukku, katanya “Sultan Syariah Yusuf al-Hamdani membawakan kepadaku syair ini: Biarkan orang, jangan kau balas kejahatannya. Dia akan menanggung seluruh perbuatannya.”

Ditemukan kata mutiara, barangsiapa ingin memotong hidung154 musuhnya maka bacalah syair berikut berulang kali, seperti yang dinyanyikan padaku ini: “Bila kau ingin musuhmu terhina. Terbunuh susah dan terbakar hina. Maka tingkatkan ilmu dan capailah mulia. Karena orang dengki akan tambah susahnya. Bila yang di dengki tambah ilmunya.”

Ada petunjuk dikatakan, “Kamu haru mementingkan maslahat dirimu, bukan harus mengalahkan musuhmu. Karena bila kamu telah membangun maslahat dirimu maka disitulah kekalahan musuhmu155. Dan hindarilah bermusuhan, karena akan membuka aibmu dan membuang-buang waktumu.”

Tabahkanlah dirimu dan sabarkan hatimu, terutama dalam menghadapi orang-orang bodoh. Nabi Isa bin Maryam a.s bersabda, “Tabahkanlah dirimu dalam menghadapi orang bodoh satu kali saja, agar kamu beruntung sepuluh kali.”

Dibawakan kepadaku syair gubahan sebagian para pujangga: “Berahun-tahun manusia saya teliti. Tidak aku lihat selain khianat dan pembenci. Tidak aku lihat masalah besar yang menimpa juga menyusahkan. Selain permusuhan antar sesama. Telah aku cicipi segala yang pahit rasanya. Tetapi tiada yang melebihi pahitnya meminta.”

C. Berfikir Positif

Hindarilah berburuk sangka (berpikir negatif) kepada sesama mukmin, karena disinilah sumber permusuhan. Buruk sangka itu tidak diperbolehkan berdasarkan sabda Nabi , “Berbaiksangkalah kepada kaum mukmin.”156

Buruk sangka itu timbul dari niat yang jelek dan hati yang kotor, sebagaimana syair Abu Thayib sbb: “Bila buruk perbuatan seseorang, buruk pula pikirannya. Dia membenarkan apa isi lamunannya. Dia membenci orang yang mencintainya. Atas dasar pengaruh para musuhnya. Iapun dalam keraguan yang gelap gulita.”157

Dibawakan kepadaku syair gubahan sebagian para pujangga: “Singkiri perbuatan jelak, tak usah kau tanggapi. Kepada siapa kau berjasa, tambahkan lagi. Dari segala muslihat musuhmu, engkau akan dilindungi. Bila musuh berekadaya, jangan kau peduli.”

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments