Senin, September 20, 2021
BerandaAkhlak & TasawufBerkasih Sayang dan Menasehati Dalam Kebaikan

Berkasih Sayang dan Menasehati Dalam Kebaikan

Dibawakan kepadaku syair gubahan Syaikh al-Hamid Abul Fath al-Busti158: “Orang berakal tidak akan lepas dari si bodoh. Yang membuat lalim dan membuat rusuh. Pilihlah damai, jangan melawan. Tetaplah diam, jika dia bercelemotan.”


Footnote:

149 Sinyalemen ini hendaklah tidak dijadikan alasan oleh para putra guru/kiyai/ustadz untuk enggan belajar, karena pada dasarnya ilmu itu diperoleh mesti dengan tekun belajar, seperti telah diuraikan terdahulu. Bahwa putra guru mendapat berkah atas jasa besar ayahandanya adalah sangat diharapkan, dan hal itu sepenuhnya di tangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Kita yakin Allah akan menurunkan berkah dan rahmat kepada para putra guru, karena itu para putra harus mempersiapkan diri untuk menerima anugerah tersebut. Telah banyak Allah menurunkan berkah dan rahmat kepada para hamba, tetapi banyak pula diantara mereka yang tidak siap menerimanya sehingga terlewatkan dari anugerah tersebut. Ibnu Athoillah as-Sakandari dalam al-Hikam berkata:

لاتستبطئ منه النّوال ولكن استبطئ من نفسك القبول

“Jangan kamu menganggap anugerah–Nya datang terlambat, tetapi keterlambatan ada pada dirimu untuk dapat menerimanya.”

150 Abul Hasan yaitu Ali bin Abu Bakar Shahibul Hidayah (pengarang kitab al-Hidayah), guru Syaikh az-Zanurji pengarang kitab ini. Biografinya telah disebutkan terdahulu, footnote 21.

151 Maksudnya adalah Imam Abdul Aziz bin Umar, seorang ulama ahli fiqih bermadzhab Hanafi, hidup pada abad V Hijriyah.

152 Beliau adalah Imam Umar bin Abdul Aziz bin Umar, seorang ulama ahli fiqih bermadzhab Hanafi dan memiliki banyak buku karangan. Imam Umar adalah guru langsung Abul Hasan Shahibul Hidayah, wafat tahun 536H/1141M.

153 Beliau adalah seorang Imam terkemuka, ulama besar ahli fiqih bermadzhab Hanafi, pujangga sekaligus mufti penduduk Bochara yang amat didengar fatwanya. Salah seorang guru Az-Zanurji ini juga digelari Imam Zadeh, wafat tahun 573H/1162M (al-Jawahirul Mudhi’ah II/36, At-Taaj hal 44-45)

154 Memotong hidung musuh adalah kata kiasan (majazi), yang artinya mengalahkan, menaklukkan atau menghinakan musuh.

155 Dalam perjuangan menegakkan kebenaran, masyarakat kita mengenal semboyan “Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorekae” (menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa menghinakan). Untuk dapat mewujudkan hal ini, seseorang harus banyak berbuat baik dan berjasa kepada sesama, sehingga perjuangannya akan mendapat dukungan dari banyak pihak.

156 Hadis semakna diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan al-Hakim sbb:

حسن الظن من حسن العبادة

“Berbaiksangka sangka itu termasuk ibadah yang bagus.”

157 Dua bait ini gubahan Abu Thayib al-Mutanabbi, semual untuk pujian terhadap Ustadz Kafur al-Akhsyidi (Diwan al-Mutanabbi, hal 459). Biografi al-Mutanabbi telah disebutkan diatas.

158 Beliau adalah Ibnu Ahmad ibnu Husain al-Busti, pujangga, penyair, dengan banyak buku karangannya. Wafat di Bochara tahun 400H/1009M. Bust adalah nama kota di Sajastan. (Mu’jamul Muldan II/170)

Sumber: Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Ta’limul Muta’alim. Terjemahan Drs. H. Aliy As’ad, MM. Cetakan ke-27. 2007. Surabaya: Menara Kudus.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments