Minggu, Agustus 1, 2021
BerandaIlmu Hadis Menjauhi Larangan dan Melakukan Perintah Sesuai Kemampuan

[BAG. 4] Menjauhi Larangan dan Melakukan Perintah Sesuai Kemampuan

Hadis Arba’in 09: [BAG. 4] Menjauhi Larangan dan Melakukan Perintah Sesuai Kemampuan

10. Memahami dan Mengamalkan Lebih Utama dari Bertanya

Satu hal yang harus diperhatikan seorang muslim adalah mengkaji ajaran yang diberi Allah dan Rosul-Nya kemudian bersungguh-sungguh memahami maknanya. Jika hal itu termasuk perkara ilmiah, ia harus membenarkan dan meyakininya. Jika hal itu termasuk perkara aplikatif, ia harus mengamalkan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan.

Orang yang bisa melakukan hal itu maka ia akan mendapatkan kebahagian di dunia dan keselamatan di akhirat. Adapun orang yang menyelisihi dan melanggar hal itu, bahkan justru sibuk dengan lintasa-lintasan yang ada dalam jiwanya maka ia akan terjerumus ke dalam kondisi yang telah diperingatkan Rosulullah, yaitu seperti para Ahli Kitab yang hancur karena banyak bertanya, saling berselisih, membangkang, dan tidak patuh kepada nabi-nabi mereka.

Begitulah keadaan para sahabat Rosulullah ﷺ dan para tabi’in ketika menuntut ilmu al-Qur’an dan Sunnah.

Salah seorang bertanya kepada Ibnu Umar r.a. tentang mengusap Hajar Aswad. Ibnu Umar pun menjawab, “Aku pernah melihat Rosulullah mengusap dan menciumnya.” Lalu orang tersebut bertanya lagi pada Ibnu Umar, “Bagaimana jika aku harus berdesak-desakan atau tidak sampai kepada Hajar Aswad tersebut?” Ibnu Umar pun menjawab, “Renungkan bagaimana jika kamu berada di Yaman. Aku pernah melihat Rosulullah ﷺ mengusap dan menciumnya.” (HR. Bukhori dan lainnya)

Maksud dari perkataan Ibnu Umar di atas adalah tidak perlu mewajibkan sesuatu yang sulit dilakukan karena hal itu dapat mengendurkan semangat untuk mengikuti sunnah.

11. Sikap Para Mujtahid dan Ahli Fikih

Sebagian besar perhatian mereka fokus untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah serta perkataan para sahabat dan tabi’in.

Mereka berjibaku meneliti sunnah-sunnah Rosulullah dan mencermati yang shohih dan dhoif kemudian memahami, mendalami, dan merenungkan makna-maknanya.

Mereka juga berusaha memahami perkataan para sahabat dan tabi’in dalam berbagai disiplin ilmu seperti tafsir, hadis, masalah halal dan haram, dasar-dasar sunnah, zuhud, penyucian jiwa, dan lain sebagainya.

Inilah jalan yang ditempuh para imam dan ahli agama fakih. Orang yang tidak mengikuti jejak mereka maka ia akan sesat dan menyesatkan.

12. Bertanya tentang Sesuatu yang Belum Terjadi

Bertanya tentang ilmu merupakan perbuatan terpuji, jika tujuannya untuk mengamalkan, bukan untuk berdebat dan berbantah-bantahan. Oleh karena itu, para sahabat dan tabi’in tidak suka bertanya dan menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang belum terjadi.

  • Amr bin Murroh mengatakan bahwa Umar bin Khoththob keluar untuk menemui orang-orang. Lalu beliau berkata, “Aku peringatkan kepada kalian untuk tidak bertanya sesuatu yang belum terjadi karena kita sudah disibukkan dengan sesuatu yang telah terjadi.”
  • Ibnu Umar mengatakan, “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi. Aku pernah mendengar Umar r.a. melaknat orang yang bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.”
  • Ketika Zaid bin Tsabit ditanya tentang sesuatu, ia menjawab, “Apakah hal ini telah terjadi?” Jika mereka menjawab, “Belum.” Zaid pun menjawab, “Biarkan saja dulu hingga hal tersebut terjadi.”
  • Masruq mengatakan, “Aku pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang sesuatu. Lalu Ka’ab pun berkata, “Biarkan dulu hingga terjadi. Jika telah terjadi kami akan berusaha mencarikan jawabannya.”
  • asy-Sya’bi berkata, “Ammar r.a. pernah ditanya tentang suatu. Lalu beliau pun balik bertanya, “Apakah hal itu telah terjadi?” Mereka menjawab, “Belum.” Lalu beliau menjawab, “Biarkan dulu hingga terjadi. Jika hal itu telah terjadi, kami akan berusaha mencarikan jawabannya.”
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments