Minggu, September 19, 2021
BerandaAqidah IslamInilah 25 Nama Nabi dan Rosul yang Wajib Diketahui dan Diimani

Inilah 25 Nama Nabi dan Rosul yang Wajib Diketahui dan Diimani

b. I’rob Nazhom

[TANBIH] Perkataan Syaikh Ahmad Marzuki ﻛﻞ ﻣﺘﺒﻊ berarti bahwa Allah telah mewajibkan umat mengikuti masing-masing dari 25 rasul dalam perintah dan larangan dan mewajibkan setiap mukallaf untuk meyakini bahwa mereka memiliki sifat kenabian dan kerasulan. Dengan demikian perkataannya ﻛﻞ ﻣﺘﺒﻊ adalah pelengkap bait.

Perkataannya اﺣﺘﺬى dengan huruf haa yang tidak bertitik dan dzal yang bertitik berarti bahwa Ayub mengikuti rasul-rasul yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan demikian perkataannya اﺣﺘﺬى adalah pelengkap bait.

Begitu juga perkataannya اﺗﺒﻊ adalah pelengkap bait. Perkataan Syaikh Ahmad Marzuki الْيَسَعْ adalah dengan huruf alif dan laam yang keduanya merupakan huruf tambahan.

Perkataan Syaikh Ahmad Marzuki ﺧﺎﺗﻢ adalah dengan fathah atau kasroh huruf taa. Yang lebih masyhur adalah dengan meng-kasroh-nya. Adapun ﺧﺎﺗﻢ yang berarti dzat permata cincin maka hanya dengan bentuk fathah pada huruf taa, bukan kasroh.

Perkataannya دَعْ غَـيَّا berarti اﺗﺮك ميلا ﻋﻦ اﻟﺤﻖ yang berarti tinggalkanlah penyimpangan kebenaran. Oleh karena itu janganlah menyimpang dari jalan yang benar. Perkataan tersebut merupakan pelengkap bait.

Maksud perkataan Syaikh Ahmad Marzuki وطه ﺧﺎﺗﻢ adalah bahwa pemimpin kita, Muhammad s.a.w adalah penutup para nabi dan rasul sehingga tidak ada nabi lagi setelahnya selamanya. Adapun syariatnya akan tetap lestari sampai datang Hari Kiamat.

Syariat beliau adalah syariat yang menyalin syariat rasul lain sedangkan syariat beliau tidak disalin oleh syariat rasul lain karena sabda beliau, “Umat ini akan tetap lestari menetapi agama Islam yang benar dan orang-orang setelah mereka akan tetap mengikuti agama ini sampai Hari Kiamat datang.”

Pernyataan di atas tidak dipermasalahkan dengan turunnya Nabi Isa a.s di akhir zaman karena ia turun ke bumi sebagai hakim yang menggunakan syariat Nabi kita, Muhammad, dan sebagai utusan yang mengikuti syariat Muhammad, sehingga tidak menafikan kalau ia ketika turun, kemudian menghukumi terbebasnya pajak dari kaum ahli kitab. Dan tidaklah diterima dari mereka kecuali Islam atau mati karena Nabi Muhammad telah memberitahukan bahwa pajak akan dipotong dari mereka sampai turunnya Isa.

Adapun Isa menghukumi kebebasan pajak dari mereka adalah dengan menggunakan hukum syariat Nabi Muhammad. Oleh karena itu Syaikh Iwadh Ghomrowi berkata:

“Syariat Nabi Thoha, yaitu Ahmad, yang terpilih akan tetap sampai Hari dimana seluruh para makhluk akan digiring dan menetap di suatu tempat.”

Ketahuilah bahwa sesungguhnya bentuk kata dari nama-nama nabi adalah berasal dari bahasa selain Bahasa Arab kecuali 4 (empat). Jadi, hanya 4 (empat) nama dari mereka yang berasal dari Bahasa Arab, yaitu nama Muhammad, Hud, Sholih dan Syu’aib.

Semua nama-nama itu tidak dapat menerima tanwin kecuali 7 (tujuh). Maka hanya 7 (tujuh) nama dari mereka yang dapat menerima tanwin, yaitu Sholih, Nuh, Syu’aib, Syits, Muhammad, dan Hud.

Ketetapan ini adalah kaidah yang muktabaroh atau terpercaya dalam ilmu Nahwu tetapi dalam nazhom Syaikh Ahmad Marzuki, terdapat 3 (tiga) nama yang dibaca dengan menggunakan tanwin, yaitu Adam, Nuh, Luth, dan 13 (tiga belas) nama lainnya tidak dengan tanwin, yaitu Idris, Hud, Ibrohim, Ismail, Ishaq, Ya’kub, Yusuf, Ayub, Syu’aib, Harun, Daud, Sulaiman, dan Ilyas.  Sedangkan 8 (delapan) nama dibaca dengan sukun, yaitu SholihYunus dan lainnya. Alasan mengapa dibaca dengan sukun adalah karena dhorurot.

Syaikh Qosim al-Hariri berkata dalam kitab Milhah al-I’rob:

“Boleh dalam membuat syair yang tidak biasa (dhorurot) bagi seorang penyair mentanwin lafadz yang pada asalnya tidak dapat menerima tanwin (Ghoiru Munshorif)”

Abdullah al-Fakihi berkata bahwa maksud nazhom Hariri di atas adalah ketika seorang penyair terpaksa harus men-tanwin lafadz yang asalnya tidak dapat menerima tanwin maka keadaan dhorurot itu mengembalikan segala sesuatu pada asalnya. Sedangkan asal dari isim adalah menerima tanwin. Akan tetapi terkadang keadaan dhorurot dapat menetapkan tanwin karena untuk menetapi kesesuaian dengan wazan.

Adapun menghilangkan tanwin dari lafadz-lafadz yang asalnya memang dapat menerima tanwin (munshorif) maka madzhab para ulama Basrah adalah tidak boleh secara mutlak karena itu atas dasar keluar dari hukum asal, berbeda dengan masalah men-tanwin lafadz yang asalnya tidak boleh menerima tanwin karena itu atas dasar kembali kepada asal. Sebagian dari mereka ada yang memperbolehkan secara mutlak. Ada sebagian dari mereka hanya memperbolehkannya dalam konteks syair. Demikianlah perkataan Abdullah al-Fakihi.

Sumber: Syaikh Nawawi al-Bantani. Nuruzh Zholam Syarah Aqidatul Awam. Terjemahan Muhammad Ihsan bin Nuruddin Zuhri. 2017.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments