Senin, September 20, 2021
BerandaAkhlak & TasawufHal yang Mendatangkan Rezeki dan yang Menghalanginya

Hal yang Mendatangkan Rezeki dan yang Menghalanginya

194 Kata mutiara ini disebut juga oleh al-Maidani dalam Majma’ul Amtsal juz II hal 455.

195 Cukup banyak hadis shahih yang berisi anjuran membaca tasbih, hamdalah, tahlil, istighfar, hauqalah maupun shalawat Nabi. Banyak pula kitab yang menjelaskan hal tersebut. al-Ghozali dalam Ihya Ulumuddin pada bagian akhir juz I menguraikan panjang lebar tentang dzikir dan doa berikut dasar hukum masing-masing, baik dari ayat al-Qur’an, hadis Nabi maupun yurisprodensi atsar sahabat. Dalam tema al-Adzkar wad Da’awat dimuat 5 Bab dengan banyak paragrafnya, dan dilanjutkan dalam Tartibil Aurad wa Tafshili Ihyail Lail dimuat 2 Bab dengan banayak paragrafnya juga. Silahkan mempelajarinya kembali.

196 Doa seperti ini tercantum juga dalam hadis Nabi riwayat Imam Tirmidzi dari sanad Sayyidina Ali k.w, dengan redaksi lain, yaitu:

اللهم اكفنى بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عن سواك

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan anugerah halalMu terlepas dari yang haram, dan jadikanlah aku kaya dengan anugerah dari sisiMu bukan dari yang lain.

197 Sesuai makna hadis yang tercantum pada awal Pasal 13 ini. Silahkan melihat kembali dan footnote yang ada disana.

198 Sesuai dengan makna hadis Nabi riwayat Imam Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik sbb:

من أحب أن يسط له في رزقه وأن ينسأله في أثره فليصل رحمه

“Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan usianya maka lakukanlah silaturrahim.”

Hadis ini dalam Mukhtashar Syu’abul Iman (hal 195) dipakai dalil bahwa silaturahim itu dapat memanjangkan umur. (Lihat juga di Majma’ul Amtsal oleh al-Maidani, II hal 449.

199 Sejalan dengan makna dalam puji-pujian ini, ada diriwayatkan hadis Nabi dari Juwairiyah sbb:

سبحان الله وبحمده عدد خلقه ورضا نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته

“Maha Suci Allah dengan segala puji-Nya, pada sejumlah bilangan makhluk-Nya, ridho-Nya, timbangan arasy-Nya dan catatan seluruh kalimat-Nya” – Riwayat Imam Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Imam Ibnu Majah.

200 Dalam syarah Ta’limul Muta’allim sendiri dijelaskan bahwa kata ini dibaca wal qiroonu sehingga maknanya menjadi “dan melakukan (haji) qiron antara haji dan umroh”. Seperti kita ketahui bahwa salah satu metode pelaksanaan haji adalah Qiron, yaitu melakukan satu kali rangkaian manasik dengan dua niat (haji dan umroh) sekaligus. Metode ini dipandang kurang sempurna, sebagaimana metode Tamattu’ sehingga mesti disempurnakan dengan membayar dam. Sedang yang dipandang sempurna adalah metode Ifrod, yaitu melaksanakan haji terlebih dahulu sampai sempurna tahallul kemudian baru memulai umroh. Berdasar analisa tersebut, maka dalam terjemahan ini dipilah membaca wal qur’anu, sebagai berdasarkan manuskrip yang tertulis jelas “wa qiroatul Qur’ani…”

201 Beliau adalah Ja’far bin Muhammad al-Mustaghfiri, bergelar Abul Abbas, seorang ulama hafizh, ahli hadis sekaligus ahli fiqih, wafat tahun 432H/1040M. (Kasyfud Dhunun 1095 dan al-Jawahurul Mudhi’ah II/347).

202 Secara umum, kitab ini berisi pengetahuan tentang obat-obatan dalam wujud ramuan alami, jamu-jamu herbal, cara pengobatan nonmedis misalnya berbekam dsb. Juga dimuat doa-doa untuk kesehatan dari hadis Nabi, dan pengalaman para sahabat maupun para ulama terdahulu. Selain kitab tersebut, banyak juga kitab-kitab seperti dimaksud, antara lain Ar-Rahmah fit Thib wal Hikmah karangan Syaikh Muhdi bin Ali As-Shubairi al-Yamani (wafat tahun 815H), kitab at-Thibbun Nabawi karangan Syaikh Ibnu Qayim al-Jauziyah yang kini telah ditahqiq oleh Dr. Abdul Ghani Abdul Kahaliq, Dr. Adil al-Azhari, dan Dr. Mahmud al-Uqdah. Ada juga kitab at-Thib minal Kitab wa Sunnah karangan Imam Abdul Lathif al-Baghdadi (577-629H) yang juga telah ditahqiq oleh Dr. Abdul Mu’thi Amin Qal’aji dan diberi translate nama-nama bahan ramuan dalam bahasa Inggris atau Latin. Ilmu pengobatan dengan metode doa dan hikmah banyak dimuat dalam kitab-kitab Syaikh al-Buni, misal kitab Syamsul Ma’arif dan Manba’u Ushulil Hikmah. Pengobatan dengan cara pernafasan dan potensi alam dipelajari dalam Ilmu Yoga. Bahkan sekarang tidak sedikit telah tercetak buku-buku pengobatan ala timur atau tradisional dalam bahasa Indonesia. Wallahu yahdina ila sawa’is sabil.

Sumber: Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Ta’limul Muta’alim. Terjemahan Drs. H. Aliy As’ad, MM. Cetakan ke-27. 2007. Surabaya: Menara Kudus.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments